Membangun Excellent Business
Syari’ah Perspektif
Excellent Business
Bisnis yang unggul (excellent business) adalah bisnis yang memiliki kualitas yang tinggi. Dan kualitas tersebut menjadi keunggulan baginya. Kualitas atau mutu hanya dapat diukur melalui suatu standar. Standar sendiri adalah batasan-batasan yang memisahkan suatu nilai baik dan buruk, terpuji dan tercela, efektif dan inefektif, efisien dan inefisien, produktif dan tidak produktif, bermutu dan tidak bermutu, dan seterusnya.
Setiap orang bisa saja membuat standar dengan menetapkan nilai-nilai (batasan)-nya sendiri-sendiri, kemudian menetapkan apakah sesuatu yang dikerjakannya berdarkan hal tersebut, apakah baik atau tidak, bermutu atau atau tidak bermutu. Namun, jika dibandingkan dengan satndar yang dibuat oleh orang lain maka akan terjadi perbedaan. Oleh karena itu, manusia kemudian mencoba menyepakati berbagai standar mutu secara bersama, semua demi satu tujuan yaitu diakuinya suatu mutu secara bersama. Sehingga kemudian bermunculanlah berbagai standar baik lokal, nasional maupun internasional tentang mutu suatu manajemen, mutu suatu proses produksi/operasi, manajemen dan lain-lain. Untuk menjaga itu semua kemudian lahirlah berbagai organisasi yang disepakati menjaga mutu terlaksananya standar mutu tersebut, muncullah kemudian dalam berbagai bidang standar-standar seperti SNI, ISO, ABET dan lain-lain.
Dari sini kita dapat memahami bahwa, untuk menilai suatu bisnis yang memiliki keunggulan (mutu yang baik sekali) haruslah memiliki standar yang baik sekali pula.
Islam sejak kelahirannya telah mengenal berbagai jenis bisnis. Bahkan Allah SWT mengajak kepada orang-orang mukmin untuk melakukan suatu bisnis (perdagangan) yang paling baik (bermutu tinggi), dengan firman-Nya:
إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (Q.S At Taubah 111)
Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini turun kepada Rasulullah saw. pada saat Baiat Aqabah II. Saat itu 70 orang Anshar berkumpul di sekitar Rasul. Abdullah bin Rawahah ketika itu berkata kepada beliau, “Silakan engkau meminta syarat apa saja untuk Tuhanmu dan dirimu.”
Nabi saw. lalu bersabda, “Untuk Tuhanku, aku meminta syarat agar kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Untuk diriku, aku meminta syarat agar kalian menjaga diriku sebagaimana kalian menjaga diri dan harta kalian.”
Orang-orang Anshar bertanya, “Jika kami melakukannya, apa balasannya?”
Rasul menjawab, “Surga.”
Mendengar itu, mereka berkata, “Sungguh, ini adalah perniagaan yang sangat menguntungkan! Kami tidak akan tinggal diam dan membatalkan jual-beli ini.” (Ath-Thabari, 1405: XI/36).
Inilah suatu bisnis yang luar biasa besar keuntungannya, dan sangat menggiurkan bagi siapa saja yang memahami suatu perdagangan. Bayangkan sesuatu yang tidak berharga (sangat kecil harga) yaitu harta dan diri (nyawa dan amal) kita yang sangat sedikit dan singkat ditukar oleh Allah dengan kebahagiaan yang tidak ada bandingnya dan selama-lamanya yaitu surga. Hanya orang yang jahil (bodoh) dalam perdagangannya saja yang tidak mengambil peluang tersebut.
Rasulullah SAW sejak muda telah melakukan bisnis dan sukses menjalankannya. Islam datang ketika masyarakat saat itu banyak melakukan berbagai jenis bisnis dan usaha. Syari’ah kemudian datang untuk melarang sebagian dan memperbolehkan sebagian yang lain. Dalam segala urusan kehidupan (termasuk bisnis) syari’ah mengatur dengan standar-standar yang jelas agar urusan tersebut selalu berkualitas.
Allah SWT telah menjelaskan bahwa siapa saja yang tidak mengambil syari’ah sebagai standar kualitas hidupnya maka sungguh apa yang dilakukannya tidak pernah bermutu baik, karena tidak akan ada balasan kebaikan baginya bahkan ia akan mendapat hukuman atas modal yang telah Allah titipkan untuknya.
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran 85)
Nyatalah bagi setiap muslim yang mukmin, bahwa segala amal kehidupannya di dunia akan bernilai (berkualitas tinggi) dihadapan Allah hanya ketika ia menjalankannya sesuai dengan standar kualitas yang Allah berikan.
Dalam bisnis, jika setiap muslim menginginkan bisnisnya memiliki keunggulan (kualitas yang sangat baik) maka ia harus memahami standar-standar bisnis Islami, baik pada level stratejik maupun operasionalnya.
Skema dibawah ini memberikan bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan oleh para entrepreneur muda untuk membangun suatu bisnis yang unggul (excellent) dalam ridho Allah SWT secara efektif dan efeisien.